Rabu, 23 Juni 2010

TALAK PERSPEKTIF AL-QUR’AN SURAT AL-BAQARAH 229-232

Pendahuluan
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi seluruh umat. Didalamnya terdapat hukum-hukum yang mencakup seluruh aspek kehidupan. al-Qur’an mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan menusia lainnya. Tidak hanya itu al-Qur’an juga mengatur manusia dalam hidup berumah tangga agar manusia dapat mewujudkan kehidupan yang harmonis. Namun jika hubungan berumah tangga tidak bisa dipertahankan al-Qur’an juga memberi solusi yang adil, yaitu talak.
Talak menurut bahasa yaitu bercerai, lepas, atau terikat. Adapun talak menurit ulama fiqih adalah kalimat yang dengannya berahir ikatan pernikahan. Kalimat talak bisa berupa kalimat yang jelas, sehingga orang yang mendengarnya langsung paham. Bisa juga dalam bentuk bahasa yang tidak selas (kinayah)

Ayat-Ayat al-Qur’an
QS. Al-Baqarah 299-232.

ß,»n=©Ü9$# Èb$s?§�sD ( 88$|¡øBÎ*sù >$rá�÷èoÿÏ3 ÷rr& 7xƒÎŽô£s? 9`»|¡ômÎ*Î/ 3 Ÿwur ‘@Ïts† öNà6s9 br& (#rä‹è{ù's? !$£JÏB £`èdqßJçF÷�s?#uä $º«ø‹x© HwÎ) br& !$sù$sƒs† žwr& $yJŠÉ)ムyŠr߉ãm «!$# ( ÷bÎ*sù ÷LäêøÿÅz žwr& $uK‹É)ムyŠr߉ãn «!$# Ÿxsù yy$oYã_ $yJÍköŽn=tã $uK‹Ïù ôNy‰tGøù$# ¾ÏmÎ/ 3 y7ù=Ï? ߊr߉ãn «!$# Ÿxsù $ydr߉tG÷ès? 4 `tBur £‰yètGtƒ yŠr߉ãn «!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqãKÎ=»©à9$# ÇËËÒÈ   bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù ‘@ÏtrB ¼ã&s! .`ÏB ߉÷èt/ 4Ó®Lym yxÅ3Ys? %¹`÷ry— ¼çnuŽö�xî 3 bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù yy$uZã_ !$yJÍköŽn=tæ br& !$yèy_#uŽtItƒ bÎ) !$¨Zsß br& $yJŠÉ)ムyŠr߉ãn «!$# 3 y7ù=Ï?ur ߊr߉ãn «!$# $pkß]ÍhŠu;ム5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôètƒ ÇËÌÉÈ   #sŒÎ)ur ãLäêø)¯=sÛ uä!$|¡ÏiY9$# z`øón=t6sù £`ßgn=y_r&  Æèdqä3Å¡øBr'sù >$rá�÷èoÿÏ3 ÷rr& £`èdqãmÎhŽ|  7$rã�÷èoÿÏ3 4 Ÿwur £`èdqä3Å¡÷IäC #Y‘#uŽÅÑ (#r߉tF÷ètGÏj9 4 `tBur ö@yèøÿtƒ y7Ï9ºsŒ ô‰s)sù zOn=sß ¼çm|¡øÿtR 4 Ÿwur (#ÿrä‹Ï‚­Fs? ÏM»tƒ#uä «!$# #Yrâ“èd 4 (#rã�ä.øŒ$#ur |MyJ÷èÏR «!$# öNä3ø‹n=tæ !$tBur tAt“Rr& Nä3ø‹n=tæ z`ÏiB É=»tGÅ3ø9$# ÏpyJõ3Åsø9$#ur /ä3ÝàÏètƒ ¾ÏmÎ/ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqãKn=ôã$#ur ¨br& ©!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÌÊÈ   #sŒÎ)ur ãLäêø)¯=sÛ uä!$|¡ÏiY9$# z`øón=t6sù £`ßgn=y_r& Ÿxsù £`èdqè=àÒ÷ès? br& z`ósÅ3Ztƒ £`ßgy_ºurø—r& #sŒÎ) (#öq|ʺt�s? NæhuZ÷�t/ Å$rã�÷èpRùQ$$Î/ 3 y7Ï9ºsŒ àátãqム¾ÏmÎ/ `tB tb%x. öNä3ZÏB ß`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur Ì�ÅzFy$# 3 ö/ä3Ï9ºsŒ 4’s1ø—r& ö/ä3s9 ã�ygôÛr&ur 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ ÷LäêRr&ur Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇËÌËÈ  
229. Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinyaItulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.
230. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.
231. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula). janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu Menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, Maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu Yaitu Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
232. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya[146], apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Kajian Tafsir
Mufrodat
الطلاق    : Melepaskan dengan harapan dapat mengembalikannya
تسريح    : Melepaskan sesuatu bukan untuk mengembalikannya
احسان    : Memberi lebih banyak dari pada yang harus diberikan
بلغن اجلهن    : Telah mencapai masa akhir waktunya
معروف    : Batas Minimal dari perlakuan yang wajib
عضل    : Menghalangi, Menahan

Asbabul Nuzul
Ø    Ayat 229
Mengenai sebab turunnya QS. Al-Baqarah 229 terdapat riwayat yang menerangkan bahwa pada permulaan Islam, talak itu tidak dibatasi jumlahnya. Seorang lelaki boleh saja merujuk seorang istri yang telah ditalaknya itu pada masa iddahnya, kemudian menalaknyadan merujuknya kembali sesuka hati. Kemudian terjadilah perselisihan antara seorang lelaki Anshar dan istrinya. Lalu dia berkata kepada istrrinya “Aku tidak melindungimu dan tidak juga berpisah darimu” Si istri bertanya, “Bagaimana itu?” Dia menjawab “ Saya ceraikan engkau, kemudian apabila telah dekat habisnya iddahmu, maka saya rrujuk kembali engkau” kemudian wanita itu melaporkan hal itu kepda Rasulullah saw. Kemudian turunlah ayat "Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali”
Sebelum turunnya ayat ini, istri-istri orang Arab Jahiliyah menjadi barang mainan di tangan suaminya. Para suami sering menjatuhkan talak kemudian merujuknya kembali pada masa iddah. Mereka tidak mempunyai batasan dan ketentuan berapa kali talak bisa dijatuhkan.  Un tuk menyakiti istrinya, suami dapat saja menjatuhkan talaknya kapan saja sesua dengan kemauan hatinya.
Talak sebelum datangnya Islam merupkan salah satu cara untuk menyiksa wanita. Orang-Orang jahiliyah biasanya menceraikan istrinya dan memisahkan darinya. Tetapi ia idak memperkenankan orang lain menikahinya.
Ø    Ayat 230
Sedangkan dalam ayat 230 terdapat riwayat yang mengemukakan bahwa sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan pengaduan Aisyah binti Abdirrahman kepada Rasulullah bahwa ia telah ditalak ba’in oleh suamina yang pertama (Rifa’ah bin Wahab bin ‘Atik) Setelah habis iddahnnya maka oa menikah dengan Abdurrahman bin Zuber kemudian menceraikannya sebelum menggauli. “ Apakah saya boleh menikah kembali dengan suami nyang pertama?” Nabi menjawab: “Tidak, kecuali kamu telah digauli suami yang kedua”
Ø    Ayat 231
    Menurut satu pendapat , QS. Al-Baqarah 231 diturunkan mengenai Tsabit bin Yasar seorang laki-laki dari kaum Anshar. Ia menceraikan istrinya, ketika masa iddahnya tinggal dua atau tiga hari lagi, ia rujuk kembali. Kemudian menceraikannya lagi. Karena itulah, Allah menurunkan ayat Janganlah kamu merujuk mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu manganiaya mereka.
Ø    Ayat 232
    Dalam satu riwayat dikemukakan bahwa Ma’qil bin Yasar Mengawinkan saudaranya kepada seorang laki-laki muslim. Beberapa lama kemudian, diceraikannya dengan satu talak . Setelah habis iddahnya mereka berdua ingin kembali lagi, maka datanglah laki-laki tadi bersama Umar bin Khathab untuk meminangnya. Ma’qil menjawab: “hai orang celaka! Aku memuliakan kamu dengan saudaraku, tapi kamu ceraikan dia. Demi Allah tidak akan aku kembalikan kepadamu”. Maka turunlah ayat 232 Surat Al-Baqarah yang melarang wali menghalangi hasrat perkawinan kedua orang itu.

 Tafsir Ayat
Ø    Ayat 229-230
Dalam kitab ringkasan Tafsir Ibnu Kasir dijelaskan bahwa, QS. Al-Baqarah 229-230 menerangkan penghapusan tradisi yang berlaku pada permulaan Islam, yaitu seorang suami berhak merujuk istrinya meskipun dia sudah menceraikannya seratus kali, selama si istri berada pada masa iddah. Namun, tatkala tradisi ini banyak merugikan istri, maka Allah membatasi talak hinga tiga. Dia memperbolehkan rujuk pada talak pertama dan kedua, tapi sama sekali cerai pada talak ketiga. Maka Allah Ta’ala berfirman “Talak itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik”.
Tujuan diperbolehkannya talak adalah demi kebaikan suami istri , jika upaya damai tidak bisa diwujudkan lagi. Demikianlah maksut ayat  اطلق مرتان فامساك بمعروف اوتسريح باْءحسن . Setelah dijatuhkannya talak pertama dan kedua, maka wanita harus menjalani masa iddah yaitu menunggu selama tga kali masa haidh atau dengan hitungan bulan. Namun terkadang para suami merasa menyesal dan ingin kembali lagi kepada istrinya, maka itu diperbolehkan dengan izin istrinya. Tetapi, jika setelah usaha damai itu, kemudian terjadi perrcekcokan yang mengakibatkan jatuhnya talak ketiga, maka runtuhlah rumah tangga mereka. Dengan kata lain, keduanya tidak bisa rujuk kembali.
Firman Allah ولايحل لكم أن تأخذو مما ءاتيتوهن شيئا  yakni kamu tidak boleh membuat mereka jemu menunggu dan menyulitkannya dengan harapan agar mereka menebus dirinya dari tanganmu dengan seluruh atau sebagian mahar yang telah kamu berikan kepada mereka.
Apabila suami istri berselisih, istri tidak memberikan hak suami, istri membencinya, dan tidak mampu menggaulinya, maka si istri harus menebus suaminya dengan maskawin yang dulu diberikan oleh suaminya, dan penyerahan itu boleh dilakukan si istri.
Menurut satu riwayat, ayat ولايحل لكم أن تأخذو مما ءاتيتوهن شيئ ..  diturunkan mengenai Jamilah bin Abdullah bin Ubay dan suaminya Tsabit bin Qaiys bin Syamasy. Suatu saat Jamilah mendatangi rasulullah dan berkata “Wahai Rasulullah ceraikanlah saya dari nya(Tsabit bin Qaiys), karena saya sangat membencinya”. Mendengar pengaduan istrinya, maka Tsabit bin Qays berkata kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah! (kalau begitu) maka perintahkanlah dia agar mengembalikan kebun yang telah aku berikan kepadanya” Istrinya berkata: “Baik, saya akan mengembalikan kebun itu dan dan saya akan menambahkannya” maka Rasulullah bersabda: “tidak, kembalikan saja kebunnya” Lalu Rasulullah bersabda kepada Tsabit: “Ambillah darinya kebun yang telah kamu berikan kepadanya dan biarkanlah dia bebas”
Maka Tsabit pun melaksanakan titah Rasulullah Saw  itu. Dan inilah kasus gugatan cerai pertama (khulu’) dalam Islam.
Hikmah dibolehkannya istri melakukan gugatan cerai ialah untuk menghindari dari kesusahan, dan untuk membebaskannya hubungan pernikahan karena kebahagiaan rumah tangga sudah tidak bisa dicapi lagi. Maka dalam hal ini istri bisa memberikan kembali pemberian suaminya sebagai tebusan bebasnya dia dari kekuasaan suaminya. Berdasarkan hal ini maka sebagian ulama berpendapat bahwa suami dilarang mengambil tebusan dari istrinya, kecuali jika istrinya telah melakukan pembangkangan (nusyuz) sebelumnya.
Selanjtnya dalam penghujung ayat 229 diahiri dengan ancaman kepada orang-orang yang menyalahi hukum-hukum diatas, baik yang berupa perintah-perintah maupn larangan-larangan, yang merupakan ketentuan Allah dalam rangka mengatur kehidupan rumah tangga. Karena itu kaum muslim di larang melanggar hukum-hukum tersebut, sehingga mereka terbebas dari perbuatan-perbuatan dzalim dari jiwa mereka.
 Pada ayat 230 disebutkan setelah jatuhnya talak ke tiga atau talak ba’in sang suami tidak  dapat menikahi istrinya kembali kecuali telah melewati beberapa proses. Pertama, habis masa iddah, kedua, menikah dengan lelaki lain, ketiga bersetubuh dengan lelaki yang kedua, keempat bercerai dengan lelaki yang kedua, kelima habis masa iddah dengan lelaki yang kedua. Setelah melewati masa itu (satu sampai lima) di lewati, baru dihalalkan menikah dengan suami yang pertama. Inilah maksud firman Allah
bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù ‘@ÏtrB ¼ã&s! .`ÏB ߉÷èt/ 4Ó®Lym yxÅ3Ys? %¹`÷ry— ¼çnuŽö�xî 3 bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù yy$uZã_ !$yJÍköŽn=tæ br& !$yèy_#uŽtItƒ bÎ) !$¨Zsß br& $yJŠÉ)ムyŠr߉ãn «!$# 3 y7ù=Ï?ur ߊr߉ãn «!$# $pkß]ÍhŠu;ム5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôètƒ ÇËÌÉÈ  

Ø    Ayat 231-232
    Setelah menjelaskan ayat sebelumnya (al-Baqrah 229-230) bahwa suami istri diberi pilihan untuk rujuk atau cerai, dijelaskan-Nya  pada ayat ini  batas ahir pilihan itu, sambil mengisyaratkan bahwa rujuk adalah pilihan terbaik.
    Redaksi yang digunakan pada ayat 231 adalah بلغن اجلهن balagna ajalahunna yang secara harfiah berarti “telah mencapai masa ahir iddahnya”. Karena jika telah mencapai masa akhir iddah, suami tidak lagi mempunyai hak untuk mamaksa istrinya rujuk.
    Yang dimaksud dengan sampainya waktu disini ialah mendekati ahir iddahnya sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya apabila  telah mendekati masa ahir iddahnya, maka boleh jadi dilakukan rujuk dengan niat untuk mengedepankan perdamaian dan bergaul dengan cra yang ma’ruf. Atau membiarkan masa iddahnya habis menjadikan si istri tertalak ba’in. Ini yang dimaksud  tasrih bi ihsan melepaskan dengan cara yang baik. Tidak menyakiti dan tidak meminta tebusan dari istri, juga tidak menghalang-halanginya untuk kawin dengan lelaki lain yang disukainya.  Betapapun baik ruju’ maupun cerai semua harus dilakukan dengan ma’ruf.
    Pada ahir ayat 231 Allah mengingatkan tentang nikmat Allah yang telah diberikan. Nikmat Allah yang dimaksud adalah petunjuk-petunjuk-Nya, yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Ingat dan camkanlah petunjuk-petunjuk Allah menyangkut perkawinan. Bandingkan keadaan kamu sebelum datangnya petunjuk pada masa Jahiliyah, dan keadaan kamu masa kini setelah datangnya petunjuk.
    Demikian Allah memberi pengajaran menyangkut berbagai hal dalam kitab suci dan melalui sunnah Nabi Muhammad saw, dan karena itu bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan petunjuk itu sambil meyakini bahwa itu adalah petunjuk yang sempurna.
    Kemudian pada ayat 232 Allah masih seperti ayat 231 yang menggunakan kata Ajalahunna, maksud dalam ayat 232 ini adalah berahirnya masa iddah, berbeda dengan maksut dari kata ajal pada ayat sebelumnya, yang berarti mendekati akhir masa iddah. Karena maksut ayat ini adalah melarang para wali menghalang-halangi orang yang diwalikannya (istri yang telah diceraikan oleh suaminya) untuk menikah kembali dengan calon suaminya.
    Menurut Imam al-Syafi’i, konteks pembicaraan dalam kedua ayat ini menunjukkan adanya perbedaan arti kata bulugh. Sesungguhnya pengertian merujuknya dengan baik atau menceraikannya dengan baik didalam ayat 231 tidak bisa terwujud setelah berahirnya masa iddah. Karena dengan berahirnya masa iddah, maka terjadilah perceraian yang sebenarnya, yakni dalam hal ini suami sudah tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi, saat masa iddah istrinya mendekati masa ahir, maka ia masih mempunyai dua pilihan (cerai atau rujuk). Dengan demikian larangan menghalang-halangi isteri menikah lagi dalam ayat ini, mengharuskan bahwa maksud sampainya masa iddah yaitu berahirnya masa iddah. Dengan demikian sebelum berahirnya masa iddah itu berahir, berarti tidak ada unsur penghalangan, karena sang istri masih dalam genggamannya.
    Selanjutnya dalam ayat 232 ini disebutkan tentang haramnya penghalangan tersebut. Yakni, perbuatan suami yang menghalang-halangi isterinya menikah dengan laki-laki lain, dan perbuatan para wali yang menikahkan para wanita tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.
Kajian Hukum
Ø    Ayat 299
    Firman Allah “Talak yang dapat dirujuk itu dua kali” . dalam hal ini muncul satu ketetapan talak itu ada tiga kali. Ketika talak ke tiga jatuh, istri sudah tidak halal lagi bagi suami. . “Maka rujuklah dengan cara yang makruf atau ceraikanlah dengan cara yang baik” apabila suami menceraikan istrinya untuk kali pertama atau kedua, maka dia diberi pilihan selama istri masih mempunyai masa iddah untuk merujuk kembali atau menceraikan dengan cara yang baik.
    Apabila terjadi perselisihan antara suami-istri , istri tidak memenuhi hak suami, istri membencinya, dan tidak mampu menggaulinya, maka si istri bisa menebus dirinya dari suaminya dengan maskawin yang dulu diberikan oleh suaminya, dan penyerahan itu boleh dilakukan si istri, dan suami pun tidak salah mengambil tebusandari mantan istrinya.
Ayat 230
    Setelah jatuhnya talak tiga, maka seorang suami haram untuk merujuk mantan istrinnya kembali kecuali telah dinikahi lelaki lain atau mantan istri telah melewati lima proses: Habis iddah atas perceraian suami yang pertama; Menikah dengan llelaki lain; Bersetubuh dengan suami kedua; Cerai dengan suami yang kedua; Habis masa iddah atas perceraian suami yang kedua.
Ayat 231
    Kajian hukum yang dapat diambil dari ayat 231 adalah kewajiban memperlakukan wanita yang dicerai dengan baik. Allah juga melarang  kita melakukan perbuatan yang menyusahkan mereka.
Ayat 232
    Apabila telah selesai masa iddah istri, tapi suami belum merujuknya kembali, maka dalam ayat ini Allah mengharamkan perbuatan suami yang menghalang-halangi isterinya menikah dengan laki-laki lain, dan perbuatan wali yang menikahkan para wanita tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.

Kontekstualisasi
Dengan turunnya ayat mengenai talak dan mengenai hukum-hukumnya yang telah dijelaskan diatas, seharusnya angka perceraian di masyarakat menjadi kecil. Karena sangat mudah menjatuhkan talak kepada istri tapi konsekuensinya sangat pahit apabila telah terjadi talak tiga.
Dalam ayat 230 Allah mengisyaratkan lewat firmannya menggunakan kata إن in. apabila diterjemahkan berarti seandainya. Kata ini biasa digunakan untuk sesuatu yang  jarang terjadi. Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya perceraian itu jarang terjadi di kalangan mereka yang memperhatikan tuntunan-tuntunan Ilahi, atau dengan kata lain perceraian adalah suatu yang diragukan terjadi dikalangan orang-orang beriman.
Selain itu, sering kita jumpai, orang yang cerai, bisa dikatakan benar benar cerai bila sudah ada keputusan dari pengadilan. Permasalahannya, lembaga peradilan di Indonesia mempersulit terjadinya perceraian. Artinya, untuk menuju ke perceraian diupayakan terlebih dahulu upaya perdamaian yang dilakukan sekuat-kuatnya. 
Permasalahan selanjutnya, apabila ada suami yang telah mentalak istrinya lebih dari dua kali ketika di pengadilan di upayakan perdamaian maka apabila terjadi perdamain dianta keduanya, maka menurut hukum Islam walaupun dalam pengadilan keduanya dinyatakan bisa rujuk kembali tetapi menurut QS. Al-Baqarah 229 keduanya tidak halal lagi untuk membangun hubungan rumah tangga  kecuali istri telah dinikahi lelaki lain. Permasalahan inilah yang harus disosialisasikan kepada masyarakat.

Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya:
v    Talak yang dapat dirujuk adalah talak satu dan dua
v    Setelah talak tiga, maka berahirlah hubungan rumah tangga antara suami istri
v    Setelah talak tiga, seorang suami dapat kembali kepada istrinya apabila si istri telah dinikahi lelaki lain.
v    Gugatan cerai diperbolehkan
v    Istri yang sudah dicerai masih wajib diperlakukan dengan baik
v    Haram menghalang-halangi istri yang sudah ditalak, apabila ingin menikah dengan lelaki lain







Daftar Pustaka
Apipudin, “Talak Perspektifal-Qur’an Analisis Penafsiran Syaikh Nawawi al-Bantani” (Skripsi S1 Fakultas Ushuludiin dan Filsafat UIN syarif Hidayatullah Jakarta, 2008)
Katsir,Ibnu, Terj Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Gema Insani, 1999
Ma’ani , Abd Adzim, dkk, Hukum-Hukum dari al-Qur’an dan Hadis secara etimologi, Sosial, dan Syari’at,Jakarta:Pustaka Firdaus, 2003, hlm117
Quraish Shihab,Muhammad, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jilid 1, Lentera Hati:Jakarta, 2000.
Quthb, Sayyid, Terj Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, Jakarta: Gema Insani,2000.



1 komentar:

Apipudin Sampaleun mengatakan...

Tolong kata, lepas atau terikat rubah dengan lepas dari ikatan

Poskan Komentar

Domain Garatis