Rabu, 27 Mei 2009

Amsal, Aqsam, Jadal dalam Al-qur'an

AMSAL AL-QUR’AN

A. Pengertian

Amsalbentuk jamakdari matsal, mitsl, dan matsil sama dengan syabah, syibh, dan syabih . Matsal dimaknakan dengan keadaan, kisah, dan sifat yang menarik perhatian, menakjubkan, seperti dalam firman Allah swt.

مثل الجنة التى وعد المتقون... [الرعد :35]

“ Yakni kisah surga dan sifatnya yang menakjubkan yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa” (QS. Ar-Ra’ad 35)

Dalam ilmu sastra matsal diartikan dengan:

قول محكي سا ئر يقصد منه تشبيه حال الذى حكى فيه بحال الذى قيل لاجله

“Suatu perkataan yang bdihikayatkan dan sudah berkembang yang dimaksudkan dari, menyerupakan keadaan orang yang di hikayatkan padanya denhgan keadaan orang yang matsal itu dibicarakan

Ibnu Qayyim dalam masalah amstal dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa Amstal adalah menyerupakan dengan sesuatu yang lain dalam hokum, mendekatkan yang rasional kepada yang indrawi, atau salah satu dari dua indra dengan yang lain karena adanya kemiripan.

Dikatakan pula , difinisi masal ialah menonjolkan suatu makna yang abstrak dalam bentuk yang indrawi agar menjadi indah dan menarik.

Ada juga yang berpendapat, Amstal adalah makna yang paling jelas dalam menggambarkan suatu realita yang dihasilkan oleh adanya daya tarik dan keindahan. Amstal seperti ini tidak disyaratkan harus adanya sumber.

B. Macam-macam Amsal dalam Qur’an

Amsal dalam al-Qur’an ada tiga macam yaitu:

Ø Amsal Musarrahah, ialah suatu yang dijelaskan dengan lafal matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih (penyerupaan). Amstal seperti ini banyak ditemukan dalam al-Qur’an dan berikut ini berapa diantaranya:

a) Firman Allah mengenai orang munafik:

“ Perumpamaan (masal) mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan meraka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar). Atau seeperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita , guruh dan kilat…..” sampai dengan “Sesungguhnya allah berkuasa atas segala seesuatu” ( QS. Al-Baqarah [2]:17-20)

b) Allah menyebutkan pula dua macam masal, ma’i dan nari bagi yang hak dan batil

“ Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit , maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka leburdalam apin untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan, masal, (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih akan hilan sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; asdapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d[13]:17)

Ø Amsal kaminah, yaitu yang didalamnya tidak disebutkan lafal tamsil dengan jelas. Tetapi dia menunjuk kepada beberapa makna yang indah yang mempunyai tekanan apabila ia dipindahkan kepada yang menyerupainya. Contohnya ialah firman Allah:

...لا فرض ولابكر عوان بين ذلك...[البقرة: 68]

“..Sapi betina yang tidak tua tidak muda, pertengahan antara itu… ( QS. Al- Baqarah [2] 68)

Ø Amsal Mursalah, ialah kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafal tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai masal. Seperti diantaranya ialah:

...الئن حصحص الحق... (يوسف:51)

“ Sekarang ini Jelaslah kebenaran itu” (QS. Yusuf[12]:51)

C. Pendapat Ulama Tentang Amsal

Tealah menjadi tradisi para sastrawan, mnggunakan matsal ditempat yang kondisinya serupa atau sesuai isi masal tersebut. Jika hal ini dibenarkan dalam ungkapan-ungkapan manusia, maka para ulama tidak menyukai pengunaan ayat-ayat Al-Quran sebagai masal. Kata Abu ‘Ubaid , “ Demikianlah, seseorang yang ingin bertemu sahabatnya atau ada kepentingan dengannya, tiba-tiba sahabat itu datang tanpa diminta, maka ia berkata kepadanya sambil bergurau,

جئت على قدر يموسى (طه :40)

“ Kamu datang menurut waktu yang telah ditetapkan wahai Musa” (Taha:40)

Perbuatan demikian merupakan penghinaan terhadap al-Qur’an .

D. Hikmah Mengetahui Amsal

a) Melahirkan sesuatu yang dapat dipahami dengan akal dalam bentuk rupa yang dapat dirasakan oleh panca indra, lalu mudah diterima oleh akal.

b) Mengungkap hakikat-hakikat dan mengemukaakn sesuatu yang jauh dari pikiran seperti mengemukakan sesuatu yang dekat dengan pikiran.

c) Mengumpulkan makna yang indah dalam suatu ibarat yang pendek.

AQSAM DALAM AL-QUR’AN

A. Pengertian Qasam

Aqsam adalah benuk jamak dari qasam yang berarti al-hilf dan al-yamin, yakni sumpah. Sighat yang asli bagi sumpah ialah uqsimu atau ahlifu, yang dita’diahkan dengan ba kepada muqsam bihi. Kemudian barulah disebut muqsam ‘alaihi, yang dinamakan jawab qasam,. Seperti firman Allah swt:

وأقسوا با لله جهد أيمانهم لا يبعث الله من يموت... (انحل:36)

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah bahwa Allah tidak membangkitkan orang yang mati…” (QS. An-Nahl:38)

B. Macam-macam Qasam dan Contohnya

Qasam dibagi menjadi dua yaitu:

Ø Zhahir, ialah sumpah yang didalamnya disebut Fi’il qasam dan muqsam bihi. Dan diantaranya ada yang dihilangkan Fi’il qasamnya, sebagaimana pada umumnya, karena dicukupkan dengan huruf jar berupa “ba”, “wawu” dan “ta”. Dan ada juga yang didahului ‘la nafy” seperti:

لاأقسم بيوم القيمة (1) ولا اقسم با لنفس اللوا مة (2) [القيا مة 1-2]

“Tidak sekali-kali, Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan tidak sekali-kali , Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (Al-Qiyamah:1-2)

Ø Mudhmar, yaitu yang didalamnya tidak dijelaskan Fi’il qasam dan tidak pula muqsam bih, tetepi ia ditunjukkan oleh lam taukid yang masuk dalam jawab qasam, seperti firman Allah:

لتبلون فى أموا لكم وأنفسكم (ال عمران:186)

“ Kamu sunguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu” (Ali Imran:186).

C. Redaksi Qasam dan Unsur-unsurnya

Unsur-unsur sighat qasam ada tiga:

a) Fi’il yang muta’adi dengan ba.

b) Muqam bihi

c) Muqsam ‘alaihi.

Oleh karena qasam banyak terjadi dalam pembicaraan, dia diringkaskan yaitu dengan membuang Fi’il qasam dan cukup dengan ba saja, kemudian ba diganti dengan wawu pada isim-isim yang zhahir, atau dengan ta, tapi sedikit sekali yang memakai ta dan yang banyak memakai wawu.

D. Hikmah Mengetahui Qasam dalam Al-Qur’an

Qasam merupakan salah satu penguat perkataan yang masyhur untuk memantapkan dan memperkuat kebenaran sesuati didalam jiwa. Dalam penurunan al-Qur;an ada yang meragukan, ada yang mengingkari dan ada pula yang memusuhi. Karena itu dipakailah qasam dalam Kalamullah, guna menghilanhkan keraguan dan kesalahpahaman, membangun argumentasi, menguatkan khabar dan menetapkan hokum dengan cara paling sempurna.

ILMU JADAL AL-QUR’AN

A. Pengertian Jadal

Jadal atau jidal yaitu bertukar pikiran untuk mengaklahkan lawan. Masing-masing orang yang bermaksut berdebat itu bermaksut merubah pendirian lawan yang semula dipeganginya.

B. Macam-Macam Perdebatan Dalam al-Qur’an

Ø Dalam al-Qur’an banyak mengungkapkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah malakukan perenungan dan pemikiran untuk dijadikan dalil bagi penetepan dasar-dasar akidah.

Ø Membentah pendapat para penentang dan lawan, serta mematahkan argumentasi meraka.

C.Kegunaan Jadal Dalam al-Qur’an

Allah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa jadal merupakan salah satu tabiat manusia.

Dan manusia adalah mahluk yang paling banyak mendebat.” (QS. Al-kahfi:54)

Disamping itu, Allah memperbolehkan juga ber-munazharah dengan ahli Kitab dengan cara yang baik. Firman-Nya,

“dan janganlah kamu berdebat dengan ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik” (An-Nahl:125)

Munazharah seperti bertujuan untuk menampakkan hak (kebenaran sejati) dan membangun hujjah. Itulah metoda Jadal al-Qur’an dalam memberi petunjuk kepada orang kafir dan mengalahkan para penantang al-Qur’an .

Demikianlah pembahasan Amsal, Aqsam, Jadal dalam al-Qur’an. Semoga dengan ringkasan ini dapat membuka sebagian pengetahuan mengenai Ilmu-ilmu al-Qur’an.. Salawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasul Muhammad saw, keluarga, para Sahabat yang telah berjasa dalam sejarah al_qur’an mulai dari penulisan, pangumpulan dan ahirnya dapat kita rasakan sampai sekarang. dan para pengikutnya yang senantiasa melaksanakan ajaran dan sunahnya.

Daftar Pustaka

Ash Shiddieqy, M. Hasbi, Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Semarang, edisi ke tiga,Pustaka Rizki Putra, 2009

Al-Qattan, Manna’ Khalil, terj Mabahis Fi Ulumil Quran, Jakarta: Pustaka al-Kautsa,r2006

0 komentar:

Poskan Komentar

Domain Garatis